Bagaimana jika seseorang datang kepada Anda dengan membawakan Anda 10 koper berisi tanah liat? Reaksi Anda mungkin berbeda dengan reaksi orang lain. Jika Anda orang yang suka berkreasi dengan tanah liat, mungkin Anda akan menerima dengan senang hati. Anda kemudian mulai berpikir dan merencanakan untuk membuat sesuatu yang sesuai dengan ide dan kreatifitas Anda. Tetapi jika Anda tidak suka untuk berkreasi dengan tanah liat, mungkin Anda akan memberikan reaksi yang berbeda. Anda berpikir "apa-apan ini? kenapa barang yang kotor ini bisa sampai ke rumahku?" Tanah liat mungkin bukan sesuatu yang berharga bagi Anda.
Dalam nas ini, khususnya dalam ayat 1 dan 2, TUHAN memerintahkan hamba-Nya nabi Yeremia agar pergi ke rumah tukang periuk untuk melihat bagaimana tanah liat itu dikerjakan oleh sang Penjunan sehingga menjadikannya suatu benda yang berharga dan dapat digunakan. Ketika merenungkan nas ini, saya melihat ada 2 poin yang dapat kita pelajari dari bagian ini. Yang pertama adalah hakikat tanah liat itu dan yang kedua adalah hakikat Sang tukang periuk/Penjunan.
1. Hakikat Tanah Liat
Tanah liat itu benda mati (pasif). Dia tidak dapat bergerak sendiri, apa lagi membentuk dirinya sendiri. Ini berarti bahwa tanpa campur tangan Sang Penjunan, maka sampai kapanpun tanah liat itu tetap hanyalah tanah liat. Tidak berarti apa-apa. Lumpur kotor yang dihindari, bahkan untuk dipijakpun orang merasa jijik. Nothing.
2. Hakikat Sang Penjunan
Seorang Penjunan adalah seorang yang memiliki kapasitas, kemampuan, keahlian atau skill. Seorang yang mengerti, jika diberikan kepadanya tanah liat dia tahu apa yang hendak dilakukannya dengan tanah liat tersebut. Dalam visi dan imajinasi Sang Penjunan, sesuatu yang berharga dan memiliki nilai seni telah tergambar dengan jelas dalam seonggok tanah liat yang kotor itu. Dia tahu persis detail dari proses yang akan dilewati oleh tanah liat itu yang akan membuatnya merasa puas dengan apa yang telah ia kerjakan. Jadi seorang Penjunan adalah pribadi yang berdaya dan kreatif, bahkan menjadi penentu nilai dan kegunaan/fungsi tanah liat itu.
Ketika Sang Penjunan mulai memproses tanah liatnya, biasanya ia memulainya dengan memilih tanah liat yang sesuai dan memenuhi kriterianya, yakni memiliki plasitas, homogen, bebas gelembung udara dan tidak boleh mengalami perubahan bentuk setelah proses pembentukan selesai. Setelah selesai dibentuk di atas meja pelarikan, tanah liat tersebut dijemur hingga kering dan dibakar pada suhu kira-kira 1500 oC. Setelah itu didinginkan dan masuk pada tahap finishing.
Yeremia mendapat tugas dari TUHAN untuk pergi ke rumah Tukang Periuk untuk menyaksikan bagaimana Tukang Periuk bekerja. Sebenarnya TUHAN ingin memperlihatkan isi hati, pikiran dan perasaan-Nya melalui alat peraga ini. TUHAN ingin agar bangsa Israel memahami dan mengenal Dia dengan baik. Dengan datangnya Yeremia ke rumah Tukang Periuk, TUHAN membukakan dengan gamblang isi hati-Nya bahwa:
1. Dia Allah yang berkuasa sepenuhnya atas umat-Nya.
Seperti hubungan antara Dalang dengan Wayang, demikianlah TUHAN dengan Israel umat-Nya. TUHAN adalah pribadi yang berdaya dan kreatif dalam membentuk, memberi nilai serta menetapkan tujuan dan fungsi atas keberadaan umat-Nya. Itulah sebabnya dalam ayat 6 TUHAN berkata: "Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!" Jadi seperti hanya di tangan Sang Penjunanlah tanah liat itu menjadi bernilai, demikianlah umat-Nya akan menjadi manusia-manusia bernilai dalam skill dan kreatifitas tangan TUHAN. TUHAN adalah Allah yang berkuasa sepenuhnya untuk mentransformasikan anak-anak-Nya sesuai tujuan Allah yang sangat spesifik bagi anak-Nya itu. Dia telah memikirkan detail proses yang spesifik yang harus dilewati anak-Nya tersebut sehingga pada akhirnya TUHAN puas dengan pekerjaan tangan-Nya.
Apakah orang itu adalah Anda saat ini? Sudah samapai pada taraf apakah proses TUHAN untuk Anda? Apakah Anda sedang berada di "meja pelarikan" di mana tangan TUHAN seolah-olah mengobok-obok kehidupan Anda? Atau Anda bahkan telah sampai pada taraf di mana Anda berada dalam "dapur pembakaran" sebuah kawah candra dimuka yang membuat Anda berteriak seperti Kristus di atas kayu salib: "Eloi..... Eloi Lama Sabakhtani....?" Bersabarlah Saudaraku...... Jadilah seperti tanah liat yang lunak di tangan Sang Penjunan. Karena sebentar lagi Anda akan menjadi masterpeace-nya Allah di mana dunia ini, bahkan Allah sendiri menikmati kehidupan Anda. Anda tidak mungkin tinggal di dalam "dapur pembakaran" karena itu bukan tujuan Allah. Anda hanya melewatinya sebagai proses yang harus dilewati secara terukur dalam kuasa dan kesetiaan TUHAN. Dan Anda tahu persis dampaknya bagi keidupan Anda.
2. TUHAN melihat, memperhatikan dan menguji umat-Nya.
Dalam hal ini, TUHAN menginginkan agar seperti tanah liat, umatnya memiliki hati yang lunak ketika mendapat teguran, bahkan teguran yang keras dari TUHAN. Dalam ayat 8 TUHAN berkata: "Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka." Bahwa TUHAN itu sangat senang dengan anak-Nya yang memiliki hati yang lunak dalam menerima teguran, karen teguran-teguran yang TUHAN berikan justru bertujuan untuk kebaikan dan damai sejahtra bagi orang yang ditegur-Nya.
Tetapi jika sebaliknya orang yang telah menerima janji-janji Allah kemudian hidup di dalam dosa dan melukai hati TUHAN, maka meskipun pada mulanya TUHAN merancangkan hal-hal yang baik, tapi pilihan hidup orang tersebut yang memilih hidup dalam dosa, bahkan meikmati dosa-dosa itu dan tidak lagi menghiraukan teguran-teguran TUHAN, dengan sendirinya memanggil keadilan Allah untuk berlaku kepadanya. Kita bisa melihatnya dalam ayat 9 dan 10 yang berkata: "Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka.Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka."
TUHAN ingin agar kita mengenal Dia dengan baik, tidak brburuk sangka kepada-Nya. Kita perlu mengerti bahwa ada maksud baik dari semua hal yang kita jalani dalam hidup ini. Ketika TUHAN melihat kita satu-persatu, maka Dia tahu blueprint atau rancangan apa yang akan Dia lakukan bagi kita masing-masing. Ketika Dia mengijinkan kesusahan, kebingungan, ketidak-mengertian, penghinaan, pelecehan terjadi dalam hidup kita, Dia hanya ingin agar kita diubah dari "tanah liat" yang nothing (tidak berarti apa-apa) menjadi something (sesuatu yang berharga).
Dalam semua proses itu Ia ingin kita mengenal Dia, memahami Dia dan mengikuti semua aturan main-Nya. Menerima semua prosesnya dengan taat sehingga kita akan menjadi "kreasi-kreasi" Allah yang berharga.
Renungkanlah bahwa kita adalah "tanah liat" yang akan diubah menjadi "keramik-keramik" indahnya TUHAN, yang akan dipajang dalam Istana Kerajaan Sorgawi, di depan Tahta Singgasana Kristus, Sang Penjunan kita.
Amin.
Blog ini berisi khotbah kami suami istri yang kami sampaikan di gereja tempat pelayanan kami. Juga renungan renungan inspiratif yang bisa Anda copy untuk keperluan Buletin Gereja atau Anda pakai secara pribadi. Semoga memberkati. Amin.
Monday, April 23, 2018
Thursday, April 19, 2018
Salam Jumpa
Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus untuk kesempatan ini, bisa berbagi berkat lewat ringkasan ringkasan khotbah saya di Gereja atau di beberapa persekutuan. Kiranya meberkati Saudara.
Subscribe to:
Comments (Atom)